Monday, November 07, 2005

Kampas Rem Ampas Tebu Cukup Berkualitas

Hasil uji kualitas oleh Laboratorium Teknik Metalurgi Institut Teknologi Bandung (ITB) baru-baru ini menunjukkan, kualitas kampas rem dari ampas tebu (bagas) yang diproduksi anak perusahaan PT Pabrik Gula (PG) Rajawali II, cukup berkualitas dan mendekati kualitas kampas rem suku cadang asli (genuine), dan menyamai kampas rem kualitas I.

"Uji itu meliputi nilai kekerasan, koefisien gesek, dan hasil uji gesek, menunjukkan kualitas yang bagus, yaitu ada yang mendekati kualitas genuine, dan menyamai kualitas I spare part non-genuine," kata Boga Jayadheva, Direktur Inti Bagas Perkasa, anak perusahaan PT PG Rajawali II di Cirebon, Jumat.

Ia menjelaskan, ada delapan jenis kampas rem yang diujicoba yaitu untuk empat jenis mobil, masing-masing Toyota Kijang, Daihatsu Espass, Suzuki Carry, Mitsubishi T120SS, dan empat jenis untuk motor, masing-masing Yamaha F1ZR, Honda Supra, Yamaha RX King, dan Honda GL Pro.

"Ikut pula diuji secara bersamaan pembandingnya, yaitu kampas rem genuine, kualitas I dan kualitas II dari masing-masing merek kendaraan," katanya.

Ia mencontohkan, hasil nilai kekerasan dan koefisien gesek kampas rem (KR) Bagas Kijang yaitu 84,3 dan 0,42 sementara KR Kijang kualitas I 71,0 dan 0,46, KR Bagas Espass 127 dan 0,42 sementara KR Espass Genunie 130 dan 0,50, KR Bagas Mitsubisi T.120 S 86,3 dan 0,45, KR T.120 kualitas I 79,0 dan 0,52.

Untuk motor, KR Bagas YF1ZR 86,7 dan 0,37, YF1ZR Genunie 106,0 dan 0,45 KR Bagas Honda Supra 87,3 dan 0,37 KR Supra genuine 91,7 dan 0,53, dan KR Bagas RX King 83,7 dan 0,48, KR RX King kualitas I 101,3 dan 0,47.

"Terlihat sebagian sampel dari Bagas mempunyai derajat kekerasan yang lebih rendah dan koefisien gesek yang rendah sehingga tidak membuat cakram cepat aus," katanya.

Berkaitan dengan harga, Boga menjelaskan, kampas rem bagas dijual rata-rata 40 persen lebih rendah dari kampas genuine dan saat ini sudah diproduksi 13 jenis kampas rem untuk 18 jenis kendaraan berbagai merk, dan 12 jenis kendaraan bermotor ditambah semua jenis Motor Cina.

Ia menjelaskan, saat ini kapasitas produksi pabrik yang terletak di Jatiwangi, Majalengka masih 50.000 set per bulan karena satu mesin cetak hanya berkapasitas 20 set, namun tahun 2006 akan didatangkan mesin cetak kapasitas 200 set sekali cetak sehingga produksi bisa didongkrak sampai 100.000 set per bulan.

Untuk berproduksi dengan kapasitas 50.000 set per bulan diperlukan bahan baku 500 ton ampas tebu dan sekitar 60 orang tenaga kerja.

Sementara pemasaran menurut Boga, masih terbatas pada kota-kota yang telah mempunyai jaringan distribusi seperti Bali melalui Gabungan Impor Ekspor Bali (GIEB), di Jogyakarta melalui RNI Cabang Jogyakarta, dan sejumlah distributor di Semarang dan Tangerang.

"Kami sudah mencoba kerjasama dengan perusahaan taksi Jabotabek karena kampas rem untuk kendaraan taxi lebih sering diganti, dan beberapa perusahaan sudah menyatakan berminat," katanya.

Selain itu, perusahaannya sudah mencetak prototipe kampas rem kereta api dan saat ini masih dalam masa pengujian.

"Jika hasil ujicoba menyamai kualitas standar maka kami akan coba pasarkan ke PT Kereta Api karena harganya dijamin jauh lebih murah," katanya.

Sementara Kepala Bagian Umum PT PG Rajawali II Gunandi mengatakan, saat ini perusahaannya mengembangkan usaha berbasis tebu dengan memanfaatkan seluruh komponen tebu termasuk ampas tebu, pucuk tebu, dan sisa produksi gula seperti blotong.

"Blotong sudah dimanfaatkan untuk pembuatan kompos, dan pucuk tebu untuk pakan ternak, sementara ampas tebu ada yang sudah mencoba untuk produksi jamur merang," katanya. Sumber : Gatra (28/10/05)

Sunday, October 23, 2005

Mentawai Online "Klarifikasi"

Berita UBH - Rektor Universitas Bung Hatta, Prof Dr Yunazar Manjang menyangkal Rita Marina adalah Koordinator LPPM Universitas Bung Hatta yang terlibat dalam kasus mentawai-online seperti yang diberitakan di harian terbitan Sumbar selama ini.

Yunazar mengemukakannya setelah memeriksa arsip yang bersangkutan di bagian personalia dan hukum Universitas Bung Hatta maupun di sekretariat LPPM sendiri ”Jangankan sebagai koordinator LPPM, menginjak kampus Universitas Bung Hatta saja mungkin yang bersangkutan belum pernah, saya sudah tanya pada Dr. Hafrijal Syandri Direktur LPPM UBH, malahan Hafrijal sendiri mengaku tidak begitu mengenal siapa Rita Marina ujarnya,” Jumat (21/10) siang di Kampus UBH.

Dengan penjelasan ini, Yunazar berharap agar setiap pemberitaan terkait dengan masalah Mentawaionline yang menghebohkan itu tidak lagi terutama keterlibatan Rita Marina membawa-bawa nama LPPM Universitas Bung Hatta.

Menurut Ketua LPPM Universitas Bung Hatta, Hafrijal Syandri dan Sekretarisnya Marsis, saat diperiksa sebagai saksi di kejaksaaan telah menyampaikan bahwa lembaganya hanya digunakan oleh orang lain. ”LPPM sendiri merasa tidak terlibat dalam pembuatan situs tersebut, hanya nama LPPM saja yang dipakai,”kata Hafrijal.

Marsis juga membantah bahwa Rita Marina telah ditunjuk sebagai koordinator LPPM. ”Rita hanya mendapat surat tugas untuk melakukan kerjasama dan mencari pekerjaan dengan instansi Pemerintah/Dinas Kabupaten Kepulauan Mentawai guna mendapatkan pekerjaan dan berkewajiban melaporkannya kepada LPPM Universitas Bung Hatta,”katanya. Dijelaskan juga oleh Hafrijal, surat tugas tersebut dikeluarkan LPPM berdasarkan permintaan ”JN” dan ”NS” oknum dosen yang juga telah dipanggil dan diperiksa kejaksaan.

Ditambahkan Hafrijal 4 bulan sejak surat tugas dikeluarkan tidak ada laporannya sama sekali, sehingga Direktur LPPM mengeluarkan surat nomor 63/LPPM/Hatta-1/III-2004, tanggal 17 Maret 2004 perihal pencabutan surat tugas LPPM a.n Sdr. Rita Marina, maka segala tindakan yang mengatasnamakan LPPM Universitas Bung Hatta adalah tanggung jawab pribadinya.

Marsis menambahkan, saat diperiksa oleh kejaksaaan sebagai saksi disampaikan juga, bahwa pihaknya hanya satu kali mengeluarkan surat tugas maupun tanda tangan dan stempel. Sedangkan proses selanjutnya LPPM tidak pernah tahu lagi. ”Bagaimana kop surat atau stempel LPPM didapatkan, kita tidak tahu, tapi yang jelas stempel dan kop surat yang dipakai bukan stempel yang ada di sekretariat LPPM,”jelasnya.
Marsis mengaku sangat kaget, ketika Kabag Humas Universitas Bung Hatta memberi informasi dan menanyakan kepada LPPM kebenaran berita yang dilansir media mengenai pembuatan website Pemkab Mentawai dilaksanakan atas kerjasama dengan LPPM Universitas Bung Hatta. Sejak itu LPPM berkesimpulan bahwa ada yang tidak benar dilakukan oknum dan menyalahgunakan surat tugas yang pernah dikeluarkan LPPM, karena LPPM Universitas Bung Hatta tidak pernah mengadakan kontrak kerjasama atas nama LPPM dengan Pemkab Mentawai.

Demikian disampaikan Hafrijal dan Marsis di ruangan Rektor Universitas Bung Hatta, sekaligus menyerahkan kronologis keterkaitan LPPM Universitas Bung Hatta dengan mega proyek mentawaionline yang salinannya juga diterima koran ini

Universitas Bung Hatta Buka Kelas Khusus

Berita UBH - Universitas Bung Hatta membuka Program kelas khusus yg akan diselenggarakan setiap hari Senin s.d Jumat mulai Jam 16.00 – 21.00 Wib serta setiap Sabtu jam 13.30 – 18.00 Wib dan setiap hari Minggu jam 08.00.16.00 Wib.

Rektor Universitas Bung Hatta Prof.Dr.Yunazar Manjang, mengatakan program kelas khusus ini merupakan salah satu jalur pendidikan tinggi bagi calon Sarjana (S1) yg berkeinginan meningkatkan pengetahuan & wawasannya sekaligus dapat berkarir pad pekerjaan/profesi.


Dengan dasar inilah UBH berusaha merespon keinginan masyarakat dan sekaligus menjawab tantangan bahwa UBH peduli dengan kemajuan SDM ditanah air ini. Sekali lagi orientasi program ini sasarannya memang dititik berat pad mahasiswa sudah bekerja dengan waktu terbatas. Tanpa mengabaikan segi kualitas diharapkan mahasiswa yg kuliah di kelas khusus ini dapat merasa terpuaskan dengan fasilitas2 yang memadai disamping ditangani oleh tenaga pengajar professional rata-rata berpendidikan S2 yang sudah berpengalaman dibidangnya. "Kami sengaja mengambil hari-hari di luar jam kerja. Tujuannya adalah agar aktivitas kuliah tidak mengganggu kerja para karyawan," ungkapnya.

Yunazar mengemukakan, pembukaan kelas khusus ini merupakan jawaban dari keinginan masyarakat yang menghendaki lembaga kami membuka kelas untuk karyawan swasta ataupun pegawai negeri. "Kami menangkap tuntutan tersebut dengan pertimbangan program kelas khusus dapat mendukung peningkatan karier seseorang dalam lingkungan kerjanya." Kendati merupakan kelas khusus, pihaknya tetap memberikan pelayanan perkuliahan yang kompetitif.

Lebih jauh Yunazar menyampaikan bahwa kuliah perdana kelas khusus pada tahun akademik 2005/2006 ini akan dimulai pada bulan Desember nanti, sedangkan penndaftarannya sudah dimulai dari sekarang, formulir pendaftaran bisa dibeli di Kampus I Ulak Karang Padang sampai dengan tanggal 7 Desember 2005. Untuk informasi lebih lanjut setiap saat calon mahasiswa dapat menghubungi Kampus I Universitas Bung Hatta, Jl. Sumatera Ulak Karang, Telp. 0751-7051678, 7052906 atau melalui e-mail : rektorat@bung-hatta.ac.id. ; web site http://www.bung-hatta.ac.id.

Monday, June 20, 2005

Biaya Masuk ITB

Biaya Masuk ITB Melalui Jalur Khusus Rp60 Juta

Biaya masuk Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui jalur khusus atau jalur non-Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (non-SPMB) masih relatif tinggi, antara Rp5 juta sampai Rp60 juta.

Wakil Rektor Senior Bidang Akademik ITB, Adang Surachman di Bandung, Kamis mengatakan, sebenarnya ujian saringan masuk ke ITB sendiri terbagi menjadi tiga bagian, yakni ujian saringan masuk (USM) melalui Penelusuran Minat, Bakat dan Potensi (PMBP), USM Sekolah Bisnis Manajemen (SBM), dan USM Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD).

Menurut Adang, khusus untuk biaya masuk ke Fakultas MIPA, Fakultas Ilmu Kebumian dan Teknologi Mineral (FIKTM), dan Fakultas Teknik Sipil ITB melalui jalur PMBP adalah sebesar Rp45 juta.

"Sebenarnya antara mahasiswa ITB yang masuk melalui SPMB masih satu jalur dengan PMBP," ujarnya.

Namun, berbeda dengan mahasiswa yang mengikuti USM Sekolah Bisnis Manajemen yang biaya masuknya mencapai Rp60 juta, biaya masuk ke FSRD ITB hanya sebesar Rp5 juta.

Meski demikian, menurut Adang, bagi mereka yang tidak mampu masih bisa mengikuti USM PMBP, dan bilamana diterima kuliah di ITB, maka yang bersangkutan dapat mengajukan keterangan tidak mampu.

Persyaratan lainnya, bagi yang tidak mampu namun berkeinginan dapat mengikuti kuliah di ITB melalui jalur PMBP, mereka harus memiliki prestasi seperti berada di ranking satu dan dua sewaktu SMA atau pernah mengikuti olimpiade ilmu pengetahuan.

Di bagian lain, Adang juga mengatakan, kehadiran USM ITB melalui PMBP, USM SBM, dan USM FSRD itu telah menurunkan jumlah peserta SPMB yang mendaftar ke ITB.

Mengingat terjadinya penurunan mahasiswa ITB yang masuk melalui jalur SPMB, maka daya tampungnya diturunkan dari 2.100 kursi pada tahun 2004 lalu menjadi 1.095 kursi.

Sedangkan jumlah mereka yang mendaftarkan ke ITB melalui jalur PMBP saat ini terus meningkat seperti pada tahun 2004 hanya 1.839 pendaftar, namun kini sudah mencapai 2.200 pendaftar.

Pelaksanaan USM PMBP akan dilakukan tanggal 7-9 Juni 2005, dan jumlah kursi yang disediakan ITB untuk PMBP sendiri sebanyak 600 kursi, sedangkan tahun lalu hanya diisi oleh 500 orang.

"Jumlah pendaftar USM ke ITB melalui non-SPMB mengalami peningkatan sekitar 12 persen dibandingkan tahun sebelumnya," demikian Adang Surachman.
Sumber : Media Indonesia, 3 Juni 2005.

Anda Kurang PD? Masih Ada Obral Gelar

Seringkali kita bertemu dengan para penyandang sederet gelar akademis yang kalau diamati secara jeli sebenarnya dengan mudah dapat dibedakan mana yang emas murni dan mana yang emas basapuah. Kita dengan mudah dapat membaca bahwa kadangkala deretan gelar tidak sesuai kwalitas maupun kemampuan.

Sayangnya masih juga ada pihak-pihak yang bisa tertipu dan terpedaya karena deretan gelar pada kartu nama. Yang paling menggelikan, disebabkan deretan gelar plus penampilan fisik seseorang, bahkan ada pejabat penting atau orang terpandang sekalipun menjadi korban penipuan melibatkan fulus alias uang.

Tidak salah kalau orang Inggris selalu bilang “do not judge the book from the cover” (janganlah menilai sebuah buku itu hanya karena tampilan kulitnya saja). Sebagus apapun disain kulit sebuah buku, adalah bukan jaminan kalau isi buku tersebut juga akan sebagus kulitnya.

Makna dari kata-kata bijak diatas dalam konteks tulisan ini adalah pengutamaan terhadap isi, kualitas atau kedalaman ilmu seseorang, bukan penampilan melalui deretan gelar atau titel, apalagi gelar yang diperoleh dengan cara titik-titik. Jujur saja, saya memang termasuk orang yang bingung melihat fenomena yang berkembang dalam mayarakat Minang sekarang khususnya berkaitan jual beli gelar tersebut.

Begitu tingginya ego dan gengsi, begitu pentingnya gelar atau titel oleh ”urang awak kini”, tanpa peduli akan kwalitas diri, tidak mampu mengukur diri dan tidak peduli akan ditertawakan orang. Mereka lupa kalau sebenarnya mereka telah jadi korban para pebisnis yang memang pintar mambaca peluang.

Beberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke beberapa daerah di Kepulauan Riau (Kepri). Saya bertemu dengan beberapa orang Doktor yang dulu sempat berkenalan dengan saya. Tapi ketika baru-baru ini ketemu lagi diantaranya ada yang tidak lagi pakai DR pada kartu namanya, dan ketika saya tanya kenapa? Mereka jawab, lah maleh lo awak, lah banyak amek polu nan mamakai, sampai-sampai ado nan ndak tamat SD bagai lah bagala Dotor pulo, katanya. Nah, kan?!

Belakangan saya juga sempat mengikuti acara bedah buku sejarah di Kota Sawahlunto. Bedah buku berjudul ”Pemberontakan Komunis di Silungkang” karya DR Mestika Zed, MA itu juga dihadiri para pakar tingkat nasional seperti DR Anhar Gonggong (pakar sejarah), Prof. DR Amri Marzali (antropolog) dari Universitas Indonesia yang kebetulan putra Silungkang serta beberapa lainnya.

Anhar Gonggong dalam paparannya sempat menyinggung fenomena penjualbelian gelar-gelar kesarjanaan yang kini sedang marak. Menurutnya, ”adalah berdosa dengan gelar yang anda beli” katanya. Ditambahkannya lagi bahwa menurut pakar sejarah UGM Professor Emeritus Sartono Kardiredjo, “sarjana itu adalah apabila seseorang telah mambaca sekian banyak buku”. Kalimat tersebut tentu sarat makna, dan disini saya tidak akan membahas makna dari kata-kata Sartono sebagaimana disampaikan Anhar. Karena dengan nalar kesarjanaan yang sesungguhnya kata-kata tersebut sangat gampang dipahami dan dicerna.

Suatu ketika diawal tahun sembilan puluhan dulu saat masih berdomisili di Malaysia. Saya seringkali bergabung dan terlibat diskusi dengan rekan-rekan para mahasiswa kita yang belajar disana. Saat-saat tertentu dengan kelompok masyarakat Indonesia termasuk dengan lingkungan kerja saya di KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) Kuala Lumpur.

Disalah satu topik kala itu diinformasikan bahwa dalam beberapa kasus pada perusahaan-perusahaan swasta tertentu di Malaysia, ternyata pemegang gelar kesarjanaan Indonesia memperoleh gaji sedikit lebih rendah dibanding dengan lulusan perguruan tinggi lainnya, meskipun tanggungjawab dan posisi mereka berada pada level yang sama. Hal ini dialami dan dinyatakan sendiri oleh rekan sekantor saya yang kebetulan alumnus UGM dan sempat bekerja di swasta Malaysia sebelum di KBRI.

Ironis sekali memang, dan betapa mirisnya kita kalau alumnus salah satu perguruan tinggi ternama negeri ini dapat perlakuan diskriminatif seperti itu hanya karena dia bukan lulusan Eropa atau Amerika. Kalau dikatakan rekan saya ini seorang sarjana bodoh, rasanya itu keterlaluan dan keliru karena dia punya kepakaran dan sempat beberapa tahun bekerja diperusahaan swasta tersebut, kebetulan pula yang bersangkutan adalah menantu dari mantan Menteri Besar (setingkat Gubernur) Negeri Kelantan.

Intinya disini adalah, apabila kasus di atas dihubungkan dengan fenomena yang berlaku di Indonesia sekarang menyangkut maraknya kegiatan jual beli titel akademis, maka sudah barang tentu situasi ini tidak luput dari perhatian dunia luar. Kiranya kedepan, akan semakin miringlah penilaian orang luar terhadap para penyandang gelar-gelar kesarjanaan kita.

Saya yakin, negara-negara asing khususnya negara maju melalui perwakilannya di Indonesia senantiasa mengamati secara cermat perkembangan yang tidak sehat ini. Boleh jadi sekarang mereka sedang menertawakan kita yang lagi mabuk berasyik masyuk membeli dan memakai sederet gelar, sementara kwalitas dan kemampuan is really in a big question!

Kita khawatir jika pemerintah tidak segera menindak tegas kegiatan para pihak yang terlibat bisnis jual beli gelar ini, bisa jadi suatu ketika nanti di luar negeri sana akan ada gerakan pelecehan dalam kerangka strategis untuk tujuan tertentu terhadap institusi pendidikan Indonesia secara umum.

Secara bertahap reaksi tersebut akan mengarah kepada black campign, dan pada saatnya nanti Perguruan Tinggi formal kita yang berkwalitas pun akan di-generalisasi sebagai institusi yang tidak berkwalitas sehingga ikut menjadi korban juga. Apabila suatu ketika nanti tercipta opini yang kurang baik, maka upaya mengembalikan imej tersebut bukanlah perkara mudah. Karena setelah itu besar kemungkinan akan terasa dampak berganda atau multiplier effects berkonotasi negatif yang bisa merembet ke sektor lain.

Kalau orang luar sudah merasa menuntut ilmu di Indonesia itu mutu dan gengsi-nya rendah, maka warga Indonesia sekalipun akan enggan menyekolahkan anak-anaknya ke perguruan tinggi dalam negeri, kecuali bagi mereka yang memang sudah tidak ada pilihan lagi.

Dan, andai kata kondisi ini sempat terjadi, meminjam istilah para pakar ekonomi, maka capital inflow melalui (industri) pendidikan akan semakin susah masuk ke Indonesia, sementara capital outflow yang dibawa oleh anak-anak Indonesia yang bersekolah keluar negeri malah akan semakin lancar. Sumber : Padang Ekspres, 1 Juni 2005

Saturday, June 18, 2005

Cara Memberikan Komentar

Untuk dapat memberikan komentar pada Blogger site Alumni Teknik Mesin, anda terlebih dahulu REGISTER (SIGN UP), lengkapi data data pada form yang telah disediakan. Prosedurnya tidak sulit, anda hanya diminta untuk mengisikan User Name, password dan alamat email, jika telah ada konfirmasi dari Blogger site, maka anda telah aktiv dan bisa bergabung. Dan untuk selanjut nya anda hanya memasukkan User Name dan Password (seperti login pada Email), mudah bukan.

Gubernur SumBar

Saat ini sedang dimulainya PILKADA secara langsung, siapapun caGub dan cawaGub itu tidaklah penting, yang terpenting dapat membangun Sumbar kearah yang lebih baik, memprioritaskan masyarakat kecil, memajukan pendidikan (mampu mengembalikan status SUMBAR sebagai Kota Pendidikan Tempoe Doeloe) dan bersih dari KKN. Sehingga predikat KOTA SERAMBI MEKAH dapat diraih kembali. Dan yang teramat penting adalah kebijakan yang akan dilakukan selalu berpedoman pada : ADAT BERSANDIKAN SARAK, DAN SARAK BERSANDIKAN KITABULLAH.

Blog Alumni

Kabar gembira, pada situs ini kita mencoba menggunakan fasilitas dari blog. Tujuannya situs ini dapat kita update setiap kita inginkan, semoga dengan sistem baru ini semakin bagus dan terus kita kembangkan. Jika ada saran, silahkan anda kirimkan komentarnya.